Jumat, 06 Januari 2017

The Lost #Chapter 1

CHAPTER 1
Gemuruh hujan dan petir mengisi kesunyian dan kekosongan ruang kamarku. Kutatap sekeliling ruangan yang lembab. Mendapati Ester berdiri di depan pintu kamarku yang terbuka. “Akhirnya kau terbangun?,” ucapnya melangkah masuk kekamarku. Wajahnya begitu segar dan manis, dengan muka ovalnya dan matanya yang berwarna hijau zamrud dia membuka tirai kamarku.

“Apa yang kau lakukan di apartemenku pagi ini?” tanyaku seraya bangkit dari tempat tidurku. Aku melangkah menuju meja rias dan mengambil seutas tali rambut. Mengikat rambutku, dan membiarkan beberapa helainya tergerai.

“Setidaknya kau harus mencuci mukamu dulu. Akan kutunggu kau dibawah,” jawabnya melangkah keluar dari kamarku.

Aku mengambil handuk dan pergi mandi. Sudah satu tahun aku tinggal di apartemen terpisah dari orang tuaku, dan Ester. Untuk suatu alasan aku menyukai kesunyian, ditambah dengan kesibukanku dalam pekerjaan. Semua itu seolah menyita waktuku untuk berbicara dengan orang tuaku, bahkan Ester. Setidaknya itu yang kupikirkan dalam otakku. Ester maupun ayah sering berkunjung ke apartemenku, sekedar mengucapkan halo atau bahkan minum kopi bersama.

Kukenakan sweater rajut abu-abu tua kesayanganku. Dipadukan dengan celana pendek hitam dan sandal tidur bergambar karakter Disney Stitch pemberian Ester bulan lalu. Aku menuruni anak tangga menuju dapur. Aroma kopi yang baru saja terseduh menggugah seleraku. Kutemui Ester didapur tengah menyesap susu hangat dan membaca lembaran koran pagi ini.

“Sangat jarang melihatmu sepagi ini didalam apartemenku. Melihat hujan diluar kaupun seharusnya membenci hal ini bukan?,” ucapku mengitari meja dapur dan mengambil secangkir kopi hangat.

“Baiklah, langsung pada intinya saja Kak. Aku juga tak suka jika ini bukan paksaan ayah dan ibu.” Jawab Ester menghentikan aktifitasnya dan menatapku tajam. Aku mengambil kursi dan duduk disamping Ester. Dia memasukan jari jemarinya kedalam saku tasnya dan mengeluarkan secarik amplop berwarna coklat tua dengan segel merah. “Untukmu, seharusnya ayah yang memberikannya, tapi dia tak sempat. Suka tidak suka kau harus mengiyakan,” tegas Ester dengan tatapan tajamnya.

Aku meraih amplop itu dan membuka segelnya, kubaca setiap kata yang tertulis dalam surat resmi itu. “Oh haha, baiklah ini sangat lucu Est,” tawaku geli. “Sebuah undangan pesta? Dan lihat ini? Ini bukan gayaku. Katakan pada ayah aku tak akan pergi,” kukembalikan surat itu pada amplopnya dan kuberikan kembali pada Ester. “Jika kau sudah selesai dengan ini. Aku akan kembali bekerja,”. Aku beranjak dari kursiku dan menyesap kopiku. Mengambil dua keping biskuit coklat dan melangkahkan kakiku menjauh dari Ester.

“Ayah bilang kau akan sangat menyesel jika kau tak datang, Ches. Bukan aku tak sopan, tapi kau akan benar-benar menyesal kali ini. Ayah rasa ini ada hubungannya denganmu. Dan yah, banyak cendekiawan disana. Kau akan menyukainya, setidaknya,” rayu Ester dengan nada sinisnya. Aku akan kalah dalam hal ini, penyesalan. Aku berhenti dan menatap Ester dalam-dalam. Jauh kedalam matanya yang indah dan memikat.

***
Aku dan Ester berjalan memasuki sebuah toko gaun dipinggiran Kota Elledot. Kutemui sang penjaga dengan pakaian gothic maidnya yang berwarna merah dan hitam. Sangat serasi dengan kaos kaki strip dan sepatu boots hitam yang ia kenakan, “Hai Julia, aku memerlukan gaun pesta,” ucapku padanya, dia mengangguk dan masuk kedalam toko.

“Lihat ini siapa tamu kita, Cheshire dan Ester. Hai sayang, sudah lama kau tak kemari,” ungkap Nina sang pemilik toko. Dia menghambur ke arahku, memelukku, dan melayangkan ciuman dipipiku. “Kudengar kau butuh gaun pesta sayang, jadi silahkan memilih dan kau ambil,”.

Aku berjalan mengitari rak gaun pesta, mencari satu diantara puluhan baju-baju yang tertata rapi. “Ingat Ches, jika tidak hitam maka putih, jika tidak putih maka merah. Aturan,” tegas Ester dari balik rak baju didepanku. Aku mengangguk dan mengedarkan pandanganku kesekeliling toko. Menemukan party dress tanpa lengan berwarna merah dengan pita hitam menghiasi pinggangnya.

“Aku akan mencoba itu,”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar