CHAPTER
1
Gemuruh hujan dan petir
mengisi kesunyian dan kekosongan ruang kamarku. Kutatap sekeliling ruangan yang
lembab. Mendapati Ester berdiri di depan pintu kamarku yang terbuka. “Akhirnya
kau terbangun?,” ucapnya melangkah masuk kekamarku. Wajahnya begitu segar dan
manis, dengan muka ovalnya dan matanya yang berwarna hijau zamrud dia membuka
tirai kamarku.
“Apa yang kau lakukan
di apartemenku pagi ini?” tanyaku seraya bangkit dari tempat tidurku. Aku melangkah
menuju meja rias dan mengambil seutas tali rambut. Mengikat rambutku, dan
membiarkan beberapa helainya tergerai.
“Setidaknya kau harus
mencuci mukamu dulu. Akan kutunggu kau dibawah,” jawabnya melangkah keluar dari
kamarku.
Aku mengambil handuk
dan pergi mandi. Sudah satu tahun aku tinggal di apartemen terpisah dari orang
tuaku, dan Ester. Untuk suatu alasan aku menyukai kesunyian, ditambah dengan
kesibukanku dalam pekerjaan. Semua itu seolah menyita waktuku untuk berbicara
dengan orang tuaku, bahkan Ester. Setidaknya itu yang kupikirkan dalam otakku. Ester
maupun ayah sering berkunjung ke apartemenku, sekedar mengucapkan halo atau
bahkan minum kopi bersama.
Kukenakan sweater rajut
abu-abu tua kesayanganku. Dipadukan dengan celana pendek hitam dan sandal tidur
bergambar karakter Disney Stitch pemberian Ester bulan lalu. Aku menuruni anak
tangga menuju dapur. Aroma kopi yang baru saja terseduh menggugah seleraku. Kutemui
Ester didapur tengah menyesap susu hangat dan membaca lembaran koran pagi ini.
“Sangat jarang
melihatmu sepagi ini didalam apartemenku. Melihat hujan diluar kaupun
seharusnya membenci hal ini bukan?,” ucapku mengitari meja dapur dan mengambil
secangkir kopi hangat.
“Baiklah, langsung pada
intinya saja Kak. Aku juga tak suka jika ini bukan paksaan ayah dan ibu.” Jawab
Ester menghentikan aktifitasnya dan menatapku tajam. Aku mengambil kursi dan
duduk disamping Ester. Dia memasukan jari jemarinya kedalam saku tasnya dan
mengeluarkan secarik amplop berwarna coklat tua dengan segel merah. “Untukmu,
seharusnya ayah yang memberikannya, tapi dia tak sempat. Suka tidak suka kau
harus mengiyakan,” tegas Ester dengan tatapan tajamnya.
Aku meraih amplop itu
dan membuka segelnya, kubaca setiap kata yang tertulis dalam surat resmi itu. “Oh
haha, baiklah ini sangat lucu Est,” tawaku geli. “Sebuah undangan pesta? Dan lihat
ini? Ini bukan gayaku. Katakan pada ayah aku tak akan pergi,” kukembalikan
surat itu pada amplopnya dan kuberikan kembali pada Ester. “Jika kau sudah selesai
dengan ini. Aku akan kembali bekerja,”. Aku beranjak dari kursiku dan menyesap
kopiku. Mengambil dua keping biskuit coklat dan melangkahkan kakiku menjauh
dari Ester.
“Ayah bilang kau akan
sangat menyesel jika kau tak datang, Ches. Bukan aku tak sopan, tapi kau akan
benar-benar menyesal kali ini. Ayah rasa ini ada hubungannya denganmu. Dan yah,
banyak cendekiawan disana. Kau akan menyukainya, setidaknya,” rayu Ester dengan
nada sinisnya. Aku akan kalah dalam hal ini, penyesalan. Aku berhenti dan menatap
Ester dalam-dalam. Jauh kedalam matanya yang indah dan memikat.
***
Aku dan Ester berjalan
memasuki sebuah toko gaun dipinggiran Kota Elledot. Kutemui sang penjaga dengan
pakaian gothic maidnya yang berwarna merah dan hitam. Sangat serasi dengan kaos
kaki strip dan sepatu boots hitam yang ia kenakan, “Hai Julia, aku memerlukan
gaun pesta,” ucapku padanya, dia mengangguk dan masuk kedalam toko.
“Lihat ini siapa tamu
kita, Cheshire dan Ester. Hai sayang, sudah lama kau tak kemari,” ungkap Nina
sang pemilik toko. Dia menghambur ke arahku, memelukku, dan melayangkan ciuman
dipipiku. “Kudengar kau butuh gaun pesta sayang, jadi silahkan memilih dan kau
ambil,”.
Aku berjalan mengitari
rak gaun pesta, mencari satu diantara puluhan baju-baju yang tertata rapi. “Ingat
Ches, jika tidak hitam maka putih, jika tidak putih maka merah. Aturan,” tegas
Ester dari balik rak baju didepanku. Aku mengangguk dan mengedarkan pandanganku
kesekeliling toko. Menemukan party dress tanpa lengan berwarna merah dengan
pita hitam menghiasi pinggangnya.
“Aku akan mencoba itu,”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar